Desember 23, 2009 ikaapriana071644057

PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI  
            Dalam dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi, kegiatan yang berhubung-an dengan Proses Belajar Mengajar sering diistilahkan dengan pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam KBK siswa harus dijadikan sebagai pusat dari kegiatan Proses Belajar Mengajar. Kegiatan Proses Belajar Mengajar dalam KBK tidak hanya  sekadar proses penyampaian materi saja, akan tetapi diselenggarakan untuk memben-tuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pembelajaran diarahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar (Depdiknas, 2002). 
             Dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, walaupun istilah yang digunakan “pembelajaran”, tidak berarti guru harus menghilangkan perannya sebagai pengajar, sebab secara konseptual pada dasarnya  dalam istilah mengajar itu juga ber-makna membelajarkan siswa. Mengajar belajar adalah dua istilah yang memiliki satu makna yang tidak dapat dipisahkan. Mengajar adalah suatu aktivitas yang dapat membuat siswa belajar. Ada tiga prinsip penting pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi.
              Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Tujuan pengaturan lingkungan ini dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Menurut Piaget, struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu, proses pem-belajaran menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri. 
             Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya. Pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisis, sosial, dan logika Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan sosial mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Sedangkan pengetahuan logika adalah membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.  
              Ketiga, pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak akan lebih baik mempelajari pengetahuan logika dan sosial dari temannya sendiri. Melalui pergaulan dan hubungan sosial, anak akan belajar lebih efektif dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hu-bungan sosial. Oleh karena, melalui hubungan sosial itulah anak berinteraksi dan berkomunikasi, berbagai pengalaman dan lain sebagainya, yang memungkinkan me-reka berkembang secara wajar. 
             Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah kurikulum yang diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat beru-bah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, yang meliputi, kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi cultural dan kompetensi temporal. Itulah sebabnya, makna belajar dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat. 
                Permasalahan selanjutnya adalah, bagaimana hakikat perubahan perilaku me-nurut konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dilihat dari bentuk dan isi Kurikulum Berbasis Kompetensi, tampak Kurikulum Berbasis Kompetensi banyak dipengaruhi oleh teori belajar behavioristik. Hal ini dapat dilihat dari kompetensi yang harus dimiliki siswa yang harus tergambarkan dalam indikator hasil belajar. Namun demikian, manakala kita lihat dari tujuan akhir yang harus dicapai, seperti yang tercantum dalam prinsip-prinsip pembelajaran, bahwa kompetensi sebagai hasil belajar itu harus tampak dalam pola perilaku sehari-hari melalui kemampuan berpikir memecahkan setiap persoalan yang muncul, maka dalam implementasinya, Kurikulum Berbasis Kompetensi juga banyak dipengaruhi oleh aliran kognitif-wholistik. Pembelajaran dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, diarahkan siswa bukan hanya sekedar belajar memahami dan menguasai fakta dan data, akan tetapi bagaimana pro-ses pemahaman itu dilakukan oleh siswa. Dengan demikian dalam Kurikulum Ber-basis Kompetensi belajar itu dapat dianggap sebagai proses untuk mencari dan mene-mukan sendiri berbagai konsep, teori, dalil, bahkan hukum.   

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: